Menu ✖

Mode Gelap
How To Handle Every Movie Challenge With Ease Using These Tips 20 Questions You Should Always Ask About Playstation Before Buying It The Most Influential People in the Green House Industry and Their Celebrity Dopplegangers Technology Awards: 6 Reasons Why They Don’t Work & What You Can Do About It

Daerah · 7 Sep 2026 09:31 WITA

Dari Desa Anabannae, Syafar Menembus Kompetisi Lewat Karya Digital


 Dari Desa Anabannae, Syafar Menembus Kompetisi Lewat Karya Digital Perbesar

SIDRAP — Di tengah maraknya penggunaan telepon pintar, Syafar, pemuda asal Desa Anabannae, Kecamatan Pitu Riawa, Kabupaten Sidenreng Rappang, memilih memanfaatkannya sebagai ruang untuk belajar, berkreasi, dan berprestasi.

 

Berawal dari kegemarannya mengedit video dan mengolah karya secara digital, Syafar perlahan mengembangkan kemampuannya menjadi sebuah aktivitas kreatif yang lebih serius. Ia tidak berhenti sebagai pengguna teknologi, tetapi mencoba menjadi pencipta karya.

 

Dari sanalah inovasi itu berkembang.

 

Syafar mulai memanfaatkan dunia digital untuk mencari informasi kompetisi, mengembangkan ide, mengolah konsep, hingga mengirimkan karya ke berbagai ajang perlombaan. Hasilnya mulai terlihat ketika karyanya mendapat apresiasi di tingkat yang lebih luas.

 

Dalam Lomba Inovasi Rima dan Imajinasi Karya (LIRIKA 11) yang diselenggarakan Idnulis.id, Syafar berhasil meraih Juara Favorit melalui karya berjudul “Jejak Pengkhianatan”.

 

Sertifikat penghargaan yang diterimanya mencatat Syafar sebagai peserta dalam lomba cipta puisi tersebut.

 

Prestasinya tidak berhenti di dunia puisi.

 

Syafar juga berhasil masuk nominasi Sayembara Logo dan Maskot PORPROV XVII Buleleng, Bali, serta turut ambil bagian dalam Sayembara Logo Kamar Dagang Indonesia (KADIN) ke-58.

 

Mengubah HP Menjadi “Studio Kreatif”

 

Yang menarik dari perjalanan Syafar bukan hanya daftar penghargaan yang diraih, tetapi cara ia memandang teknologi.

 

HP Android dan internet yang berada di genggaman tidak sekadar digunakan untuk berselancar di media sosial. Teknologi dimanfaatkannya sebagai sarana untuk menuangkan gagasan, mengembangkan kreativitas, dan mencari ruang kompetisi.

 

Inilah bentuk inovasi yang sederhana tetapi relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini.

 

Satu perangkat bisa menjadi alat hiburan, tetapi bisa pula menjadi ruang belajar, studio desain, meja kerja, sekaligus pintu menuju kompetisi nasional.

Baca Juga :  Embung dan Pompa Jadi Andalan, Petani Lagading Sukses Panen 11,3 Ton dari Sawah Tadah Hujan

 

Syafar memilih pilihan kedua.

 

Dari Desa Anabannae, Menembus Batas Daerah

 

Perjalanan Syafar juga mematahkan anggapan bahwa untuk menghasilkan karya yang diperhitungkan, seorang pemuda harus berada di kota besar.

 

Dari Desa Anabannae, karya dapat dikirim ke berbagai kompetisi. Jarak geografis tidak lagi menjadi penghalang ketika teknologi digunakan secara tepat.

 

Lebih dari sekadar prestasi pribadi, langkah Syafar membawa pesan penting bagi generasi muda di desa: jangan hanya menjadi konsumen dunia digital, tetapi jadilah kreator yang menghasilkan sesuatu.

 

Di tengah perhatian masyarakat terhadap penyalahgunaan teknologi, termasuk kasus-kasus penipuan online yang sering disebut “passobis”, kisah Syafar menghadirkan perspektif yang berbeda.

 

Teknologi yang sama dapat membawa seseorang ke arah yang merugikan atau justru membuka peluang.

 

Pilihan ada di tangan penggunanya.

 

Syafar memilih menggunakan teknologi untuk berkarya, berkompetisi, dan membawa nama Desa Anabannae ke ruang yang lebih luas.

 

Bukan Sekadar Juara, tetapi Inspirasi

 

Juara Favorit lomba cipta puisi nasional dan nominasi sayembara logo serta maskot PORPROV XVII Buleleng, Bali, menjadi catatan dalam perjalanan Syafar.

 

Namun, makna terbesarnya justru terletak pada proses: berani mencoba, terus belajar, memanfaatkan teknologi, dan tidak takut membawa karya desa ke panggung yang lebih besar.

 

Kisah ini menjadi pengingat bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dengan peralatan mahal atau fasilitas besar.

 

Kadang inovasi dimulai dari sebuah HP di tangan, sebuah ide di kepala, dan keberanian untuk mengubahnya menjadi karya.

 

Dari Desa Anabannae, Syafar menunjukkan: teknologi bukan hanya untuk melihat dunia—tetapi juga untuk membuat dunia melihat karya kita.

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Didampingi Langsung Bupati Syaharuddin, Kalosi Alau Jalani Penilaian Desa Berprestasi Nasional 2026

6 Oktober 2026 - 14:22 WITA

Yuk Datang ke Market Day At Tauhid Fest, Ada Lomba Mewarnai dan Aksi Pedagang Cilik

6 Oktober 2026 - 09:00 WITA

Pesta Panen di Tonrongnge, Bupati Dorong Kebersamaan untuk Pertanian yang Lebih Sejahtera

5 Oktober 2026 - 19:56 WITA

Mappadendang Jadi Ruang Warga Buae Bersyukur dan Merawat Kebersamaan

5 Oktober 2026 - 10:36 WITA

Dari Musda IPM Sidrap, Bupati Syaharuddin Alrif Serukan Perluasan Peran

4 Oktober 2026 - 20:16 WITA

Sumur Bor Hadir, Sawah Tadah Hujan di Bapangi Tetap Produktif

4 Oktober 2026 - 13:24 WITA

Trending di Daerah